Nama   : Fitri Gumayanti

NRP    : A24100149

Laskar : 29 (Joehana Wiradikarta)

Nama saya Fitri Gumayanti dan saya berasal dari keluarga yang sederhana. Meskipun bagi sebagian orang kehidupan keluarga saya cukup berat, namun di balik itu semua saya tetap bersyukur karena memiliki sosok seorang ibu yang menjadi sumber inspirasi bagi saya. Kerja keras dan kegigihannya dalam menjalani hidup yang terkadang keras ini membuat saya pun selalu mengurungkan niat saya untuk berputus asa. Karena, dengan jerih payah dan keringatnya lah saya bisa hidup sampai sekarang maka jika saya berputus asa, itu artinya saya tidak menghargai semua jerih payah kedua orang tua saya khususnya ibu saya yang sudah melahirkan saya.

Nenek saya memiliki beberapa ladang di Sumatra yang akan diwariskan kepada anak-anaknya termasuk ibu saya. Namun karena saat itu pengetahuan tentang bercocok tanam masih kurang, maka lahan yang ada pun belum bisa digarap secara maksimal. Sejak dahulu sebenarnya keluarga ibu saya bekerja sebagai petani. Tapi, ibu saya berusaha untuk tidak meneruskan tradisi tersebut karena penghasilan yang diperoleh pun sebenarnya belum seberapa. Ibu saya ingin merubah nasib dengan melakukan pekerjaan lain. Akhirnya, selepas lulus SMA, ibu menumpang di rumah saudara kami untuk minta dicarikan pekerjaan. Namun, bukan pekerjaan yang ia dapatkan, ia justru hanya dipekerjakan oleh saudara kami sendiri untuk melakukan pekerjaan di rumahnya seperti mencuci pakaian dalam jumlah yang banyak, dsb. Karena tidak kuat diperlakukan seperti itu, ibu saya memutuskan untuk pergi merantau ke Kota Bogor, kota yang sekarang menjadi tempat saya melanjutkan pendidikan saya. Di Bogor, ibu pernah bekerja menjadi seorang pegawai di sebuah tempat perbelanjaan terkemuka. Ibu juga pernah menjadi pegawai sebuah pabrik sepatu. Saat bekerja di pabrik sepatu itu, sebenarnya ibu sudah menikah dengan bapak saya yang ia temui di Bogor juga. Kebetulan bapak saya juga berasal dari Sumatra. Namun di pabrik tersebut, ibu mendapat masalah dengan karyawan lain yang sudah lebih dulu bekerja di sana karena ibu dapat naik jabatan dalam kurun waktu yang singkat, mengalahkan karyawan lain yang lebih ‘senior’. Selain karena keuletan ibu dan hasil kerja ibu yang memang rapi, sebenarnya peristiwa naik jabatan ibu tersebut merupakan akal-akalan manajer pabrik tersebut yang menyukai ibu dan berusaha mendekati ibu. Akhirnya, ibu pun mengundurkan diri dan memutuskan untuk kembali ke Sumatra bersama bapak karena di Bogor peruntungan yang mereka cari tidak bisa mereka dapatkan dengan sempurna. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya ibu dan bapak bekerja menggarap lahan warisan nenek saya. Selain menggarap lahan milik kami, ibu dan bapak juga menggarap lahan milik saudara kami yang berada tak jauh dari rumah kami, namun ternyata tanahnya kurang subur. Ibu dan bapak pun memutuskan untuk menggarap lahan kami sendiri saja yang lebih subur namun terletak sangat jauh dari rumah kami yaitu berada di balik bukit yang jauh dari rumah kami. Saat liburan sekolah, saya juga ikut ke ladang dan pulangnya membawa beras di punggung saya. Benar-benar perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan. Tidak terbayang ibu dan bapak saya harus berjalan sejauh itu setiap minggunya dan tinggal di sana selama seminggu karena jika harus pulang pergi, akan sangat melelahkan dan rawan karena tidak ada yang mengawasi. Setiap akhir minggu, hasil kebun kami itu dijual dan saya beserta adik saya memperoleh jatah lima puluh ribu rupiah untuk keperluan hidup kami selama seminggu mulai dari untuk makan, membeli keperluan sekolah, dan lain-lain.

Itulah kisah ibu saya yang benar-benar membuktikan bahwa ia adalh wanita yang kuat, yang gigih dan tidak pernah berputus asa. Ia adalah inspirasi sekaligus kebanggaan buat saya. Dan saya pun sangai ingin untuk membalas semua kerja kerasnya dengan sukses sehingga selain bisa memberikan kehidupan yang lebih baik lagi, saya juga bisa memberikan kebanggaan kepada ibu saya karena memiliki saya sebagai anaknya. Semoga kisah ini juga bisa menginspirasi orang lain untuk bisa menjadi lebih baik lagi.

Nama   : Fitri Gumayanti

NRP    : A24100149

Laskar : 29 (Joehana Wiradikarta)

Nama saya Fitri Gumayanti. Saya berasal dari Kabupaten Lahat, suatu daerah di Kota Palembang. Saya diterima di Institut Pertanian Bogor tepatnya di departemen Agronomi dan Hortikultura ini melalui proses seleksi di daerah saya. Kisah yang akan saya tulis disini adalah kisah perjalanan dan perjuangan saya sendiri untuk bisa memperoleh BUD tersebut.

Pada awalnya, saya ditunjuk kepala sekolah di SMA tempat saya bersekolah untuk mengikuti tes seleksi beasiswa tersebut bersama kedua orang teman saya yang lain. Namun saya mendapatkan sedikit masalah karena saya tidak mendapatkan uang untuk ongkos berangkat ke tempat diadakannya tes tersebut. Saat meminta uang sambil mengutarakan niat untuk melanjutkan pendidikan di IPB pun awalnya orang tua saya tidak mengizinkan karena penghasilan mereka hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. SMA tempat saya bersekolah pun merupakan sekolah gratis. Jangankan untuk kuliah, untuk memberi saya uang lima belas ribu rupiah saja mereka kesulitan karena tiap minggunya saya dan adik saya diberi jatah uang lima puluh ribu untuk keperluan hidup sehari-hari seperti untuk memasak, membeli buku dan keperluan lainnya. Sedangkan kedua orang tua saya bekerja di ladang kami di balik bukit yang jauh dari rumah kami dan hanya pulang di akhir minggu setelah hasil ladangnya terjual sehingga setiap harinya saya hanya berdua di rumah dengan adik saya. Tapi saya tak putus asa. Dengan dukungan dari teman-teman saya, saya pun nekat pergi tes dengan membawa uang sepuluh ribu. Di tempat tes, saya tidak mebawa bekal apapun padahal acaranya berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Usai tes pun karena tidak membawa uang lagi, saya bersama kedua teman saya pulang dengan jalan kaki padahal saat itu sedang hujan deras dan tidak ada di antara kami yang membawa payung. Setelah tes tersebut, kami diberikan formulir untuk keperluan administrasi data. Namun lagi-lagi saya harus menguras otak untuk bisa mendapatkan uang sebesar enam belas ribu rupiah untuk membeli dua buah materai yang harus dicantumkan di formulir tersebut. Karena orangtua tidak bisa member, maka saya memberanikan diri untuk membicarakan hal tersebut kepada salah seorang guru saya dengan harapan beliau bisa membantu. Namun ternyata beliau justru berpendapat bahwa masalah ini bukan masalah sekolah karena menyangkut pendidikan saya sendiri sehingga saya pun harus mengusahakan segala hal yang berkaitan dengannya sendiri. Saat itu saya merasa pasrah dan berniat untuk tidak melanjutkan perjuangan dalam meraih BUD tersebut karena tidak mampu membeli materai. Saya pun menangis di belakang sekolah selama waktu istirahat. Saat bel tanda istirahat usai berbunyi, kedua teman saya berhasil menemukan saya yang sedang menangis sejadi-jadinya dan berhasil pula meminta bantuan pihak sekolah untuk membelikan saya materai.

Setelah semua data dan persyaratan sudah dikirim ke pihak IPB, sayapun tinggal menunggu hasilnya. Saya tidak mau terlalu berharap sehingga saya hanya pasrah saja. Setelah menunggu selama lebih dari 1 bulan, maka tepat pada hari dan bulan kelahiran saya yaitu tanggal 24 Maret 2010, ada 2 orang wartawan Lahat Pos yang membawa berita baik ke sekolah karena saya dinyatakan lulus BUD IPB. Saya sangat terharu pada saat itu sehingga tidak mampu menahan air mata tanda syukur dan kebahagiaan. Orang tua saya yang tadinya tidak mengizinkan pun akhirnya mendukung karena beasiswa ini bisa merubah hidup kami sekeluarga melalui pendidikan saya.

Saya sangat bersyukur dan di samping itu saya telah berhasil membuktikan bahwa untuk mencapai sesuatu harus disertai dengan usaha yang keras dan jangan putus asa.

Semoga kisah pribadi saya ini dapat memberikan pencerahan dan inspirasi bagi banyak orang.

Bek Real Madrid, Marcelo menilai timnya harus bekerja ekstra keras dalam sesi latihan sejak ditangani pelatih, Jose Mourinho. Namun, Marcelo mengaku siap menjalani program latihan tersebut demi membawa “El Real” meraih gelar.

Mourinho pindah dari Inter Milan ke Madrid akhir musim lalu. Sejak Jumat (16/7/2010), ia telah melakukan latihan pramusim meskipun beberapa pemain masih absen setelah tampil di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Mourinho yang dikontrak selama empat tahun mendapatkan tugas cukup berat yaitu meruntuhkan dominasi Barcelona. Menurut Marcelo, tuntutan itulah yang membuat Mourinho mengubah sistem latihan dan karaktrer permainan timnya.

“Mourinho membuat kami yakin bahwa kami tidak bisa bersantai selama latihan. Kami berlatih sangat agresif dan mendapatkan banyak hal. Untuk menang, kami memang harus bekerja keras dalam latihan,” jelas Marcelo

“Mourinho pribadi yang baik. Dia berbicara kepada kami semua bahwa tidak akan memberikan perlakuan yang istimewa,” tambah bek asal Brasil itu.

via Detiksport

Cancel replyLeave a Comment

// <![CDATA[//